AHAMMIAH MA'RIFATULLAH
(Pentingnya Mengenal Allah)
Sinopsis
Ma'rifatullah atau mengenal Allah adalah hal utama yang harus disempurnakan oleh seorang Muslim. Para mad'u yang terlibat di dalam dakwah harus memahami dan mengenal Allah dengan benar (shahih). Harus tertanam di dalam hati sanubari bahwa Allah adalah "Rabb" sekalian alam. Walaupun setiap manusia telah bersaksi bahwa Allah sebagai Rabb (Surat 7:172) dan hadits nabi yang mengatakan bahwa jiwa manusia adalah fitrah.
Keyakinan ini harus bersandar kepada berbagai dalil dan bukti yang kuat agar menghasilkan peningkatan iman dan taqwa, juga pribadi merdeka dan bebas. Pengenalan kepada Allah SWT telah dikuatkan oleh banyak dalil yang tidak terbantahkan. Oleh karena itu pentingnya mengenal Allah karena dorongan dalil dan bukti-bukti tersebut. Beberapa dalil yang menguatkan keberadaan Allah tersebar dalam dalil naqli, dalil aqli dan dalil fitri. Dalil-dalil ini akan menambah keyakinan kepada Allah dan keyakinan ini lahir dari pengenalan yang mantap terhadap Allah.
Mengapa kita perlu mengenal Allah SWT? Karena dengan mengenal Allah kita akan mendapatkan banyak kebaikan di antaranya adalah peningkatan iman dan takwa. Disamping itu dengan mengenal Allah akan tumbuh ketenangan, keberkatan dan kehidupan yang baik, serta di akhirat dibalas dengan surga Allah. Semua ini berujung pada keridhaan Allah SWT
1. Ahammiyah Ma'rifatullah (Pentingnya Mengenal Allah)
· Ada Riwayat yang menyatakan bahwa hal pertama yang harus dilaksanakan dalam agama adalah mengenal Allah (awwaluddin ma'rifatullah). Dengan mengenal Allah, kita akan mengenal diri. Siapakah kita? Bagaimana kedudukan kita dibandingkan dengan makhluk-makhluk lain? Apakah sama misi hidup kita dengan binatang? Apakah tanggungjawab kita dan ke manakah akhir hidup kita? Semua pertanyaan itu akan terjawab secara tepat setelah kita mengenal Allah sebagai Rabb dan Ilah Yang Mencipta, Yang Menghidupkan, Yang Mematikan dan seterusnya.
· Dengan mengenal Allah, kita akan mendapatkan banyak keuntungan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu sangat perlu kita mengenal Allah. Selain itu, perlunya mengenal Allah karena begitu banyak dalil yang terhampar di sekitar kita yang tidak mungkin dinafikan baik secara akal sehat ataupun dengan berbagai pendekatan ilmu.
Dalil
· Q. 47:19. Ayat ini mengarahkan kepada kita dengan kalimat "Fa'lam annahu"(ketahuilah oleh mu) bahwasanya tidak ada ilah selain Allah dan minta ampunlah untuk dosamu dan untuk mukminin dan mukminat.
· Apabila Al Quran menggunakan sighah amar (perintah) maka wajib bagi kita menyambut perintah tersebut. Dalam konteks ini, mengetahui atau mengenali Allah (makrifatullah) adalah wajib.
· Q. 3:18. Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan melainkan Dia, dan telah mengakui pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu sedang Allah berdiri dengan keadilan. Tidak ada tuhan melainkan Dia Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.
· Q. 22:72-73. Allah telah menjanjikan mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah -baik ayat qauliah atau kauniah- dengan api neraka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang kamu dapati pada mukamuka orang kafir kemarahan. Hampir-hampir mereka menendang orang-orang yang membacakan kepada mereka ayat-ayat kami. Katakanlah kepada mereka: Hendakkah aku khabarkan kepada kamu dengan yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka yang telah dijanjikan oleh Allah kepada mereka yang kufur dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Wahai manusia, dibawakan satu perumpamaan maka hendaklah kamu dengar! Sesungguhnya orang-orang (berhala-berhala) yang engkau sembah selain Allah tidak akan mampu mencipta seekor nyamuk sekalipun seluruh mereka berkumpul untuk tujuan itu. Dan jika mereka dihinggapi oleh seekor lalat, mereka tidak mampu untuk menyelamatkan diri. Lemahlah orang yang menuntut dan orang yang dituntut (sembah). Karena itu mengenal Allah dengan mentadaburi ayat-ayat Nya adalah sangat penting dan utama agar selamat dari api neraka.
· Q. 39:67. Mereka tidak mensifati Allah dengan ukuran yang sebenarnya. Padahal semesta alam berada di dalam genggaman-Nya. Pada Hari Kiamat langit-langit dilipat dengan Tangan Kanan-Nya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka sekutukan. Orang-orang kafir tidak mensifati Allah dengan taqdir yang sebenarnya karena mereka salah dalam mengenal Allah. Ayat ini mengajak kita agar tidak salah taqdir terhadap hakikat ketuhanan Allah yang sebenarnya. Oleh karena itu kita harus shahih dan tepat dalam makrifatullah.
2. Al Maudhu' (Fokus Pembahasan) - Allah Rabbul Alamin (Allah Pencipta Alam)
• Fokus Pembahasan ma'rifatullah, adalah berbicara tentang Rabb, Malik dan Ilah. Kata Rabb dalam al-Quran berarti bahwa Allah sebagai Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa. Sedangkan kata Ilah mengandung arti bahwa Allah-lah yang Paling dicintai, yang Paling ditakuti dan sebagai Sumber Pengharapan. Dalil nya Surat An-Naas: 1-3.
· Namun demikian, focus yang didahulukan untuk difahami adalah Allah sebagai Rabb. Inilah fokus awal pembahasan makrifatullah. Jika kita menguasai dan menghayati keseluruhan tema ini, artinya kita telah mampu menghayati makna ketuhanan yang sebenarnya. Dengan mengenal Allah sebagai Rabb maka individu akan kembali kepada fitrahnya yang mengakui Allah sebagai Rabb, dengan demikian berikutnya akan mudah memahami Allah sebagai Malik dan Ilah.
Dalil
· Q. 13:16. Katakanlah: "Siapakah Rabb langit dan bumi? Jawabnya:" Allah". Katakanlah: Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindung (wali) dari selain Allah, padahal mereka tidak mendapatkan manfaat dan tidak pula kemudaratan bagi diri mereka sendiri? Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan orang yang melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?" Katakanlah:"Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa".
· Q. 6:12. Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang di langit dan di bumi?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah". Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang. Dia sungguhsungguh akan menghimpun kamu pada Hari Kiamat, yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, maka mereka tidak beriman.
· Q. 6:19. Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksian nya?" Katakanlah: `Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini di wahyukan ke padaku supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al Quran kepadanya. Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain disamping Allah?" Katakan lah: "Aku tidak mengakui". Katakan lah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)"
· Q. 27:59. Katakan lah: Segala puji-pujian itu adalah hanya untuk Allah dan Salam sejahtera ke atas hamba-hambanya yang dipilih. Adakah Allah yang paling baik ataukah apa yang mereka se kutukan.
· Q. 24:35. Allah memberi cahaya kepada seluruh langit dan bumi
· Q. 2:255. Allah. Tidak ada tuhan melainkan Dia. Dia Hidup dan Berdiri Menguasai seluruh isi bumi dan langit.
3. Quwatul Dalil (Dalil-Dalil Yang Memperkuat Makri f atullah)
· Makrifatullah yang shahih dan tepat harus bersandarkan kepada dalil-dalil dan bukti-bukti kuat yang telah disiapkan Allah untuk manusia dalam berbagai bentuk, agar manusia berfikir dan menilai.
· Banyak ayat Al Quran tentang fenomena alam diakhiri dengan kalimat tanya, "Tiaakkah kamu berfikir, tidakkah kamu melihat, tidakkah kamu mendengar" dan sebagainya. Pertanyaan-pertanyaan itu mengarahkan kita pada satu pandangan konkrit bahwa semua alam ini adalah milik Allah dan diatur oleh Allah SWT
A. Dalil Naqli (Bukti Al Quran)
· Begitu banyak dalil-dalil yang berada di dalam Al Quran menguatkan keberadaan Allah SWT sebagai tuhan Pencipta, Pemelihara, Penguasa dan Pengatur alam semesta. Dalil naqli berarti rujukan yang berasal di dalam Al Quran. Allah SWT menjadikan rasul Muhammad SAW sebagai tauladan dalam mengamlkan nilai-nilai Al Quran. Oleh karena itu keberadaan Allah sangatlah kuat dengan meruj uk kepada Quran dan Sunnah.
Dalil
· Q. 6:19. Allah menurunkan Al Quran kepada Rasul sebagai Peringatan untuk Manusia
B. Dalil Aqli (Bukti Rasional)
· Selain dikuatkan oleh dalil naqli yang berasal dari Quran maka wujud Allah dapat dibuktikan melalui pendekatan akal atau rasional. Beberapa ayat Al Quran juga memberikan suatu isyarat tentang rasionalitas keberadaan Allah SWT Kejadian langit, bumi dan pertukaran siang malam menjadi bukti bagi orang yang berakal. Begitu pula dengan isyarat-isyarat lainnya yang ada di dalam Al Quran seperti ciptaan-ciptaan Allah di bumi dan di langit serta kehebatan-kehebatan yang Allah miliki. Semuanya itu dapat diterima secara rasional. Selain terdapatnya isyarat di dalam Al Quran tentang keberadaan Allah maka buktipun menunjukkan di alam semesta.
Dalil
· Q. 3:190. Kej adian langit, bumi dan pertukaran siang malam menjadi bukti bagi Orang yang berfikir
C. Dalil Fithri (Bukti Fitrah)
· Keberadaan Allah juga diakui secara fitrah oleh setiap manusia khususnya pengakuan Allah sebagai Rabb Pencipta alam semesta. Hati nurani manusia yang cenderung kepada kebaikan dan kebenaran dapat mengarahkan individu untuk mengakui keberadaan Allah SWT
Dalil
· Q. 7:172. Pertanyaan Allah kepada anak Adam AS di alam fitrah, "Bukankah Aku Tuhan mu?" Lalu semua anak Adam
pun bersaksi.
Ats Tsamrat (Hasil) -> Ziyadatul Iman Wa Taqwa (Meningkatkan Iman Dan Taqwa)
· Apabila kita betul-betul mengenal Allah dengan dalil-dalil yang kuat, maka hubungan kita dengan Allah menjadi lebih akrab. Apabila kita dekat dengan Allah, Allah lebih dekat kepada kita.
· Setiap ayat Allah (qauliah maupun kauniah) akan menjadi bahan berfikir dan penambah keimanan serta ketaqwaan. Dari sini akan menghasilkan hamba yang merdeka, tenang, penuh keberkatan dan kehidupan yang baik. Surga adalah tempat abadi yang telah dijanjikan oleh Allah bagi yang telah diridhaiNya.
· Hasil dari pengenalan kepada Allah adalah bertambahnya iman dan takwa sehingga mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akherat. Di antara kebahagiaan dunia adalah dapat memberikan ketenangan, memberikan keamanan, mendapatkan kebebasan, memperoleh keberkahan, menjadi pemimpin dunia, mendapatkan kehidupan yang baik. Manakal kebaikan di akherat kita akan dimasukkan ke dalam surga dan mendapatkan keridhaan dari Allah.
A. Al Hurriyah (Kebebasan)
Mengenal Allah berarti menyerahkan dirinya dan semua urusannya kepada Allah. Dengan mengenal Allah akan timbul keyakinan kepada taqdir dan menjadikan diri kita hanya bergantung kepada sang Pencipta saja. Dengan demikian kita menjadi bebas dari segala tuntutan hawa nafsu yang dapat membelenggu diri kita dan juga lepas dari segala ikatan yang membuat kita sangat bergantung dan menjadi tidak aman.
• Mengenal Allah menjadikan diri kita aman karena hanya kepada Allah saja kita bergantung. Keimanan tanpa mencampuradukkan keyakinan dengan yang lain membuat diri kita bebas dari belenggu keduniaan sehingga merasakan kebebasan dari segala sesuatu yang tidak perlu dipertuhankan dan mempertuhankan hanya kepada Allah saja.
Dalil
· Q. 6:82. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
B. Thuma'ninah (Memberikan Ketenangan)
· Mengenal Allah akan menuntut kita untuk ingat kepadaNya melalui dzikir dan menjalankan ibadah. Ketenangan akan diperoleh dengan mengingatNya. Allah SWT berfirman tentang orang-orang yang beriman akan mendapatkan ketentraman hati.
· Bahkan dalam surat yang lain disebutkan bahwa hanya dengan mengenal Allah, hati menjadi tenang. Cara lain selain mengingat Allah, hati belum tentu tenang dan tentram. Dengan demikian kepentingan kita mengenal Allah adalah untuk kepentingan kita sendiri.
Dalil
· Q. 13:28. Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati. menjadi tentram.
C. Al Barakat (Keberkahan)
· Allah akan melimpahkan keberkahan kepada manusia yang beriman dan bertaqwa, ini merupakan janji Allah. Iman dan taqwa hanya diperoleh dari pengenalan dan pemahaman kita kepada Allah dan kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dalil
· Q. 7:96. Kalau sekiranya penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan pembuatannya.
D. Al Hayatul Thayibah (Kehidupan Yang Baik)
· Kehidupan yang baik untuk diukur dari materi. Banyak mereka yang mempunyai kecukupan dan kelebihan materi tetapi tidak mendapatkan kehidupan yang baik. Hidup mereka susah, tidak tenang, tidak tentram, gelisah dan merasakan kekurangan terus menerus.
· Kehidupan yang baik adalah kehidupan yang tenang walaupun tidak mempunyai kecukupan materi, kita mempunyai kedamaian hati. Dapat mengatasi berbagai masalah kehidupan manusia dan dunia dengan iman dan amal shaleh.
Dalil
· Q. 16:97. Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh, baik lelaki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.
E. Al Jannah (Surga)
· Kepentingan mengenal Allah juga akan mengantarkan kita ke surga. Mengimani Allah mesti diikuti dengan melaksanakan amal shaleh. Misalnya kita telah mengenal Allah tentang berbagai kebaikanNya yang diberikan kepada manusia seperti rezki, kesehatan, kehidupan, anak, pekerjaan, makan, minum dan banyak lagi kebaikan Allah lainnya. Dengan mengenal kebaikan Allah maka sangat tidak wajar kita tidak berterima kasih dan tidak bersyukur kepada Allah, oleh karena itu rasa syukur kita perlu diwsudkan dalam amal shaleh dan ibadah.
· Deran artial shaleh dan ibadah maka kita akan masuk suq,sebagai bagian dari kehidupan di akhirat kelak nanti.
Dalil
· Q..'J:25-26. Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (suza), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepia jalan yang lurus (Islam). Bagi orang-orang yang beruat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tarnahanttya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dar'.idak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, merka kekal di dalamnya.
F. Nardhatillah (Keridhaan Allah)
· All:a SWT akan ridha kepada kita apabila kita ridha mer;alankan semua perintahNya. Hanya individu yang keral Allah saja yang akan ridha menjalankan semua perutahNya. Dengan demikian balasan dari Allah kepada yar ridha kepadaNya adalah keridhaan Allah seperti meaasukkan kita ke dalam surga yang segala kenikmatan hidp ada di dalamnya.
Dalil
· Q.'1:8. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga `Ad yang mengalir di bawahnya sungai - sungai, mereka kek di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap merka darl merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu:dalah (balasan) bagi orang-orang yang takut kepada Tubrnnya.
Ringkian Dalil
· Kelmtinganmakrifatullah (Q. 47:19, 3:18, 22:72-73, 39:67)
· Tera pembicaraan makrifatullah - Allah Rabbul Alamin
(Q..3:16, 6:12,19, 27:59, 24:35, 2:255)
· Dickung dalil yang kuat: naqli (Q. 6:19), aqli (Q. 3:190),
fitri (Q. 7:172, 75:14-25)
· Dapat menghasilkan peningkatan iman dan taqwa
· Kemerdekaan (Q. 6:82)
· Ketenangan (Q. 13:28)
· Berkah (Q. 7:96)
· Kehidupan yang baik (Q. 16:97)
· Syura (Q. 10:25-26)
· Mardhatillah (Q. 98:9)
Asalamualaikum di masa ini tak kira dlm masjid di kaca media semua menyeru membuat kebaikan melipat gandakan amalan demi mencara pahala terfikir di benat hati kecil di manakah iklas nya dalam kita dalam mengerjakan kebaikan itu segalanya mengharap laba .........fikirkanlah renungkan lah
BalasHapusMaf Mksud pertanyaan bung syazwani gmn? Kita kurang paham. (085210237177)
BalasHapusSebagaimana nabi Muhammad Saw sebelum tersusunnya Alquran nurkarim & perintah sholat 5 waktu (syariat Islam ) adalah di tuntun & di bimbing oleh malaikat Jibril untuk bertemu Alloh (kuasa Allah SWT yg ada dalam dirinya )
BalasHapus